Pernah dapat tawaran email seperti ini? “Publikasi 3 hari, Scopus Q2, harga spesial Rp 1,5 juta!”
Menggiurkan, bukan? Apalagi jika Anda sedang dikejar target kelulusan, kenaikan pangkat, atau sekadar ingin cepat-cepat punya publikasi di CV. Tapi di tengah maraknya jurnal predator yang menjaring mangsa dengan iming-iming instan, muncul pertanyaan yang lebih membingungkan: kalau jurnal predator meminta biaya, lalu kenapa jurnal bereputasi juga ada yang minta biaya? Apakah semua jurnal berbayar itu jahat?
Jawabannya: tidak. Dan justru di sinilah letak tantangan terbesar peneliti Indonesia saat ini—membedakan biaya yang sah dan wajar, dengan jebakan yang menyamar sebagai jurnal ilmiah.
🔍 Jurnal Bereputasi Juga Berbiaya: Kenapa?
Kita harus luruskan dulu satu hal: Article Processing Charge (APC) bukan dosa. Banyak jurnal bereputasi—bahkan yang terindeks Scopus Q1, Web of Science, atau DOAJ—menerapkan APC . Biaya ini digunakan untuk:
- Proses peer review yang kredibel dan melibatkan pakar sejawat ;
- Pemeriksaan plagiarisme dengan software profesional seperti Turnitin/iThenticate ;
- Penyuntingan bahasa dan tata letak agar artikel layak terbit secara internasional ;
- Pendaftaran DOI dan arsip digital yang permanen;
- Hosting dan pemeliharaan sistem Open Journal Systems (OJS) .
Bahkan jurnal nasional terakreditasi SINTA 1–2 pun umumnya mengenakan biaya mulai Rp1–3 juta, sementara SINTA 3–4 di kisaran Rp500 ribu–1,5 juta . Jurnal kampus seperti Jurnal Pepadu Universitas Mataram hanya meminta Rp100 ribu untuk APC dan Rp250 ribu untuk publikasi akhir—jauh dari kata “memeras” . UNY bahkan tegas: submission fee Rp0, dan publikasi hanya Rp400 ribu .
Jadi, biaya bukanlah dosa. Yang menjadi dosa adalah ketidaktransparanan dan ketiadaan proses ilmiah yang sah.
🦹♂️ Lalu, Apa yang Membuat Jurnal Predator Berbahaya?
Jurnal predator tidak sekadar “meminta uang”. Mereka menjual ilusi. Dalam webinar Universitas Indonesia, Prof. Arie Afriansyah mengingatkan bahwa publikasi di jurnal predator bisa berakibat fatal: penolakan hasil penelitian, pembatalan gelar, hingga rusaknya reputasi akademik .
Apa bedanya dengan jurnal bereputasi berbiaya? Tabel sederhananya:
Dr. Faizul Mubarok dari Universitas Terbuka menegaskan: jurnal predator kerap menjanjikan publikasi cepat tanpa proses akademik yang benar . Mereka memanfaatkan tekanan psikologis penulis yang butuh cepat terbit.
🧭 Strategi Cermat: 5 Langkah Memilih Jurnal Bereputasi
Jadi, bagaimana caranya agar tidak salah pilih? Berikut rangkuman dari berbagai pelatihan dan seminar yang digelar UT, UGM, UI, SEBI, hingga UNWIRA :
1. Cek Indeksasi, Jangan Percaya Klaim Sepihak
Jangan hanya membaca tulisan “Scopus Indexed” di laman jurnal. Cek langsung ke situs resmi: Scopus (scopus.com), DOAJ (doaj.org), atau SINTA (sinta.kemdikbud.go.id) . Jika tidak ada di sana, anggap klaim itu palsu.
2. Selidiki Dewan Redaksi dan Afiliasinya
Apakah editor memiliki afiliasi akademik yang jelas? Apakah alamat institusi bisa diverifikasi? Jurnal predator sering mencantumkan nama profesor tanpa izin, atau menciptakan dewan redaksi fiktif .
3. Periksa Proses Peer Review dengan Kacamata Kritis
Apakah jurnal mencantumkan secara eksplisit bahwa artikel akan melalui penelaahan sejawat? Berapa lama durasi review-nya? Jurnal bereputasi biasanya tidak menjamin tanggal terbit sebelum review selesai .
4. Waspadai Undangan Publikasi yang Terlalu Agresif
Pernah dapat email spam yang memuji artikel Anda padahal belum pernah Anda tulis? Itu ciri khas predator. Ahmad Baehaqi dari SIBERC SEBI mengingatkan: jurnal bereputasi tidak akan meminta artikel dengan cara “memburu” penulis secara masif .
5. Jangan Tergiur Janji Instan
Tidak ada jalan pintas menuju reputasi. Prof. Ahmad Maryudi dari UGM, yang masuk daftar Top 2% Scientists dunia, menekankan bahwa publikasi yang baik adalah publikasi yang melalui proses . Jika sebuah jurnal menjanjikan terbit dalam 3–5 hari dengan biaya tertentu, tanyakan: peer review-nya kapan?
💡 Apakah Ada Jurnal Bereputasi yang Gratis?
Ada. Beberapa jurnal berkualitas—terutama yang didanai institusi atau lembaga nonprofit—tidak memungut APC sama sekali. Tapi biasanya mereka sangat selektif . Jurnal seperti ini layak diperjuangkan, meskipun tingkat acceptance rate-nya rendah dan waktu tunggunya lama.
Strateginya: jangan hanya memburu jurnal gratis. Cari yang sesuai dengan scope riset Anda, lalu cek kebijakan biayanya. Jika memungkinkan, manfaatkan subsidi atau keringanan biaya yang ditawarkan oleh pengelola jurnal, terutama bagi penulis dari institusi mitra atau mahasiswa .
🧠 Kesimpulan: Cerdas, Bukan Sekadar Waspada
Di tengah hiruk-pikuk publikasi ilmiah di Indonesia, kesadaran soal jurnal predator memang harus ditingkatkan. Tapi kewaspadaan jangan berubah menjadi ketakutan buta pada semua jurnal berbiaya.
Jurnal bereputasi dengan APC yang transparan, proses peer review yang jelas, dan indeksasi yang terverifikasi bukan musuh. Justru mereka adalah mitra dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan.
Yang perlu kita latih adalah kejelian. Kejelian membaca laman web jurnal, kejelian memverifikasi klaim, dan kejelian menimbang antara “cepat” dengan “berkualitas”.
Karena pada akhirnya, publikasi ilmiah bukan sekadar tentang terbit. Tapi tentang diakui, dirujuk, dan berdampak. Dan semua itu tidak pernah instan.

Leave a Reply